Laman

Rabu, 28 Desember 2011

SURAT MAJNUN DI AWALI DOA

Duhai Tuhan, pengetahuan-Mu meliputi segala sesuatu. Kau mengetahui apa yang tampak dan apa yang tersembunyi, karena Kau telah menciptakan bebatuan maupun intan berharga yang terjebak di dalamnya. Milik-Mulah semua yang ada di langit beserta bintang-bintangnya. Kau menggabungkan malam ke dalam siang, dan siang ke dalam malam. Rahasia dan misteri yang tersembunyi di dalam hati manusia terbuka pada-Mu, karena tidak ada satu pun yang terlepas dari pengelihatan-Mu. Kau adalah penyebab getah tumbuh-tumbuhan mengalir pada hari-hari penuh kebahagiaan di musim semi. Kau adalah penyebab darah mengalir melalui nadi kami hingga waktu kematian kami. Dan Kau adalah Dia yang mendengar do’a dari mereka yang membutuhkan ketika mereka berpaling kepada-Mu.


Aku menulis surat ini sebagai orang yang telah meninggalkan semua ikatan dengan dunia, seorang yang takdirnya sekarang terletak di tanganmu, sebagai orang yang darahnya adalah milikmu untuk kau jual semurah yang kau kehendaki.


Kau berkata bahwa aku adalah sang penjaga harta. Memang aku berada didekatnya, namun disaat bersamaan aku tidak pernah sejauh ini darinya! Kunci yang dengannya aku bias membuka peti harta itu belumlah diciptakan. Logam yang darinya kunci itu akan ditempa masih tertidur di dalam perut bebatuan.


Aku adalah pasir yang kau injak di bawah kakimu, sementara aku adalah air kehidupan – tapi air kehidupan siapa? Aku bersujud di kakimu sementara tanganmu memeluk – memeluk siapa? Aku bahkan mendapat musibah darimu, sementara kau membelai – membelai siapa? Aku adalah budakmu dan bebanmu ada di pundakku, tapi bagaimana denganmu? Perhiasan siapa yang tergantung di telingamu? Kau adalah Kakbahku, kepadamu aku menghadapkan sholatku, tapi apakah aku ini bagimu?


Kau adalah penyembuh bagi semua yang salah pada diriku, namun pada saat yang sama kau adalah penyakitku! Aku adalah anggur dalam cawanku, namun tidak menjadi milikku. Kau adalah mahkota yang telah dibuat untukku, namun yang menghiasi kepada orang lain. Memang, kau adalah hartaku, namun kau ada di tangan orang asing, untuk dia nikmati: aku tidak lain seorang pengemis malang yang dipatuk oleh ular yang menjagamu.


Kau adalah syurga, aku tahu itu. Namun aku tidak dapat menemukan kunci utnuk membuka gerbangnya! Kau adalah milikku, namun bukan milikku: kau adalah langit, namun begitu jauh hingga bisa jadi aku adalah neraka beserta seluruh siksaannya! Pohon kehidupanku tumbuh dalam hutan jiwamu dan merupakan milikmu: tebanglah pohon itu maka semua bagian darimu akan jatuh dan mati. Aku adalah tanah di bawah kakimu: jika aku melangkah dengan lembut, aku akan menjadi di musim semi yang indah yang menumbuhkan bunga-bunga yang tidak ada habis-habisnya untuk kesenanganmu. Jika kau menginjakku dengan keras, aku akan menjadi awan debu yang berputar, yang membungkus, dan mencekikmu.


Bukanlah aku sudah menyerahkan diriku padamu dengan sukarela? Bukanlah aku telah dikenal di dunia sebagai budakmu?*Dan memang begitu, karena aku memikul beban seorang budak. Maka bertindaklah seperti seharusnya seorang tuan bertindak dan lakukan yang benar! Aku tidak memiliki apa-apa lagi yang dapat aku pakai untuk mempertahankan diriku: senjataku, perisaiku – aku telah melepaskan mereka semua. Aku telah menjadi tawananmu dalam perlawanan, namu jika kau tolak aku maka pedang akan segera memenggalku.


Kasihanilah aku, dan dengan dengan demikian kau juga telah mengasihini dirimu. Jangan potong hidungmu sendiri karena kau iri dengan wajahmu; jangan berperang melawan pasukanmu sendiri: jangan sakiti jiwamu sendiri; berbaik-baiklah, lemah-lembutlah, dan berilah pelipur kepada hatiku yang sakit. Hanya dengan menerimaku kau dapat membebaskanku.


Apakah seorang raja akan pergi tanpa pelayannya? Namun bagaimana mungkin seorang pelayan akan menaati seorang raja yang tidak pernah dia temui? Biarkan aku melayanimu, sebagai budakmu. Jangan kau tukar atau jual aku! Tapi tampaknya kau sudah melakukannya. Bukankah kau telah memahat namaku pada sebongkah es agar meleleh di bawah matahari? Bukankah kau menuntunku ke dalam api terbakar? Bukankah kau yang telah melakukan hal-hal ini kepadaku? Ya memang engkaulah orangnya. Kau adalah orang yang mengubah siangku menjadi malam, membuat kehidupanku menjadi sebuah kesengsaraan, sementara sepanjang waktu kau meratapinya. Apakah itu adil? Kau curi hatiku, kau pincangkan jiwaku, untuk tujuan apa? Sebagai balasan, kau hanya member kata-kata menyengat, sementara aku menjadi abu terbakar api cinta.


Dan bafaimana dengan engkau? Bagaimana dengan engkau, Belahan Jiwa, pemilikku? Apakah aku melihat isyarat-isyarat cinta ketika aku menatap wajahmu? Tunjukkan dimana mereka! Aku tidak melihat apa-apa. Apakah karena itu kau memutuskan ikatan denganku, agar kau dapat mengikatkan tali kasihmu dengan orang lain? Mungkinkah kau merayuku dengan kata-katamu sementara sepanjang waktu kau berencana untuk member lelaki itu apa yang diinginkannya? Aku mendengar keluhanmu, tapi apakah ia tulus? Penguasaanmu kepadaku tidak lain dari penguasaan seorang raja tiran.


Mengapa kau begitu kejam? Setelah semua telah terjadi, mengapa kau tidak ikut menanggung kesedihanku? Kedua mataku hanyalah untukmu, dan selama aku mencari-cari isyarat yang akan member kabar tentang takdirku, aku hanya dapat memikirkanmu. Hatiku sangat mendambakan kedamaian, tapi dimanakah aku dapat menemukannya? Kedamaian adalah dia yang diperkenankan untuk memandangmu, bukan yang hari-harinya berlalu dengan kesengsaraan seperti aku. Dia yang memiliki sebuah permata sepertimu memiliki kedamaian, dan bahkan jauh dari itu; dia memiliki dunia.


Tapi aku tidak memilikimu. Orang-orang menggali bumi dan mencari harta, hanya untuk mendapati bahwa bumi tidak akan menyerahkannya: bukanlah selalu begitu kejadian sejak dulu? Perhatikanlah sebuah kebun! Sementara burung bul-bul mengicaukan puji-pujian pada burung ara, sang gagak malah mencuri buahnya! Tukang kebun merawat pohon delima dengan darah di jantungnya, hanya untuk melihat buahnya dibawa pergi untuk diberikan kepada beberapa orang yang tolol. Seperti itulah jalan takdir.


Kapankah, Duhai belahan hati, kau akan terbebas dari belenggu suamimu ini? Kau adalah rembulan dengan segala keindahan. Kapankah wahai rembulan, kau akan terlepas dari rahang sang ular? Kapankah lebah akan pergi dan meninggalkan madunya untukku? Kapankah cermin itu akan bersih dari debunya dan bersinar terang kembali? Kapankah anjing penjaga itu mati sehingga aku dapat melihat peti berlian itu? Kapan, kapan, kapan?


Namun, jangan berpikir aku menanam kebencian kepada suamimu. Meskipun ia berada di dekatmu, meskipun ia adalah ngengat yang berterbangan terus-menerus di sekeliling nyala api dirimu, aku tidak menyimpan dendam: biarkan ia menikmati cahayamu, biarkan ia merasa bahagia dengan nyalanya! Namun aku tidak akan menahan bahwa aku berharap …..


Oh, apa yang dapat aku katakan? Kau adalah segalanya bagiku: kebaikanku, keburukanku, sakitku, dan penyembuhku.


Maafkan aku belahan hatiku! Maafkan aku bila telah menebarkan kata-kata jelek pada kebaikanmu, kejujuranmu. Maafkan aku mencurigaimu. Aku tahu bahwa belum ada orang yang menggembur benteng pertahananmu. Aku tahu cangkang yang menjaga mutiara masih tetap utuh. Aku tahu bahwa tidak seorang pun telah memutar kunci dan membuka pintu menuju hartamu. Aku tahu semua ini, namun ….


Demi kasih sayang Tuhan, tahukah engkau apa yang telah dilakukan nafsu pada jiwaku? Kecemburuan membiakkan pikiran jahat dan kecurigaan. Kau tahu betapa aku merindukan untuk dekat denganmu, betapa aku mencemburui, bahkan nyamuk kecil yang hinggap di kulitmu yang halus. Namun bagi pikiran seorang pecinta yang kesurupan, nyamuk itu berubah menjadi seekor burung nasar. Sehingga demam menyelimutiku dan aku tidak dapat beristirahat hingga bayangan nasar itu menghilang dari pikiranku. Tapi bagaimana mungkin? Ibnu Salam, suamimu adalah seorang yang mulia, itu sudah sangat jelas. Tepi bagaimana mengetahui hal itu akan menolongku? Apa akibat kemuliaannya kepadaku? Bagi pikiranku, dia tidak lebih baik dari seorang penury rendahan yang bergembira atas apa yang telah dia curi. Itulah dia, mencemaskan sekuntum mawar yang bukan miliknya untuk dia petik, kehilangan tidur karena sebuah mutiara yang bukan miliknya untuk dia simpan.


Duhai belahan hatiku, dalam mencintaimu usiaku berkurang, bibirku mencuat dan mataku terbutakan oleh air mata. Kau tidak dapat membayangkan segila apa, se’majnun’ apa, aku sekarang. Demi engkau, tidak hanya aku telah kehilangan dunia – aku pun telah kehilangan diriku.


Namun jalan cinta sejati hanya dapat ditempuholeh mereka yang siap untuk melupakan diri mereka sendiri. Demi cinta, kesetiaan harus dibayar dengan darah dari jantung mereka, ketenangan jiwa mereka. Jika tidak, cinta mereka tidak berarti apa-apa. Demikianlah, kau menuntunku dengan menunjukkan kesetiaan sejati dari cintamu, bahkan jika kesetiaan itu harus tetap tersembunyi dariku selamanya.


Maka biarkan cintaku menjadi pelindung rahasiaku. Biarkan kesengsaraan yang dibawa oleh cinta membelai jiwaku! Apalah artinya bahwa penyakitku ini tidak memiliki penyembuh? Selama kau tetap sehat, penderitaanku tidaklah menjadi penting.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar